Featured

Lemah

Hari ini aku sadar betapa lemahnya manusia tanpa-Nya. Betapa tak ada manusia yang serba bisa jika tanpa bantuan-Nya. Aku yang terbiasa bisa tba-tiba menjadi tak bisa apa-apa… rasanya seperti terjatuh ke dalam jurang.

Namun aku tahu, masih ada banyak hal yang aku syukuri. Aku masih punya dua mata yang sehat untuk melihat, punya dua telinga untuk mendengar, dan masih punya hidung untuk bernafas dengan leluasa.

Allah, ampuni aku yang masih saja suka mengeluh.

Bersamai aku dan jangan lepaskan aku dari rahmat-Mu..

Aku membutuhkan-Mu…

Advertisements

Anjing Hitam

Aku punya anjing hitam, namanya depresi.
Setiap kali anjing hitam itu muncul, aku merasa hampa dan hidup terasa terhambat.
Dia dapat mengejutkanku dengan datang tiba-tiba tanpa alasan.
Ketika semua orang tampak menikmati hidup, aku hanya bisa menikmatinya dari sudut pandang si anjing hitam.
Kegiatan yang biasanya menyenangkan bagiku, tiba-tiba menjadi tidak berarti, seperti membaca, menulis dan menikmati kopi.
Dia suka merusak pola dan selera makanku, terkadang aku tidak suka makan sama sekali, terkadang dia memaksaku menelan semua makanan yang ia timbulkan sebagai bayangan di otakku.
Dia mengganggu ingatan dan konsentrasiku. Aku tidak dapat bertahan maupun berfokus pada suatu hal kecuali hanya sebentar.
Melakukan apapun dengan si anjing hitam memerlukan kekuatan besar dan luar biasa yang membuatku suka kelelahan.
Ketika bersosialisasi, dia mengendus rasa percaya diriku lalu menyingkirkannya. membuatku enggan bertemu manusia, mereka semua terasa mencekam dan menakutkan di mataku, karena ada si anjing hitam.
Kekhawatiran terbesarku adalah orang akan mengetahui kondisiku. Aku khawatir mereka akan menilaiku macam-macam.
Karena rasa malu dan stigma dari si anjing hitam, aku terus khawatir bahwa orang lain akan mengetahui kondisiku. Jadi, aku menghabiskan banyak energi untuk menutupi anjing hitam.
Menyimpan kebohongan emosional sangat melelahkan. Aku harus tertawa disaat aku tidak bisa tertawa. Aku harus ceria disaat hatiku tidak bisa merasakan apa-apa.
Anjing hitam selalu membuatku berfikir dan mengatakan hal-hal negatif, dia membuatku mudah tersinggung dan akhirnya memilih berhenti sejenak dari bertemu dan bergaul dengan orang lain. Dia mengambil cinta dari hidupku, dia membuatku merasa sepi dan sendiri meski banyak yang meneriakkan kata kasih dan cinta kepadaku, lagi-lagi si anjing hitam membutakan pikiranku.
Dia suka membangunkan dengan pikiran-pikiran negatif yang berulang-ulang, dia pula yang memasukkan pikiran-pikiran kelak bagaimana jika aku meninggalkan dunia, itu menakutkan.
Dia juga senang mengingatkanku tentang esok hari yang akan terasa lebih melelahkan dari hari ini, padahal aku belum melaluinya. Ketakutan-ketakutan tak berujung yang dibisikkannya membuatku semakin lelah dan hilang kontrol atas diriku.
Memilikinya dalam hidupku, tidak hanya menimbulkan perasaan sedih dan murung, tapi juga… paling parahnya adalah merasa hampa, tidak merasakan apapun.
Dia suka berkeliaran di sekitarku dalam waktu yang tidak bisa aku tebak berapa lama, sangat jarang dia akan disampingku hanya satu hari.
Aku mencoba berjuang dengan melawannya, menghalaunya dengan apapun yang aku pikir dapat membuatnya pergi, tapi.. lebih sering dia mengalahkanku.
Nyatanya, terjatuh lebih mudah daripada bangkit kembali.
Aku mencoba mengobati diriku sendiri, mencoba terus percaya bahwa setiap penyakit ada obatnya seperti janji tuhanku.
Langkah pertamaku untuk pulih dan menemukan titik balik dalam hidupku adalah bertemu dokter di bidangnya, yang akan membantuku, meski aku harus selalu disiplin meminum pil-pil yang tidak murah itu.
Obat dan dokter hanyalah usaha, kesembuhan dan perginya si anjing hitam ada dibawah kuasa-Nya. Maka aku mencoba dan bersikeras untuk semakin mendekatinya.
Anjing hitam sepertinya tidak ingin dilawan, semakin aku lawan, ia semakin menggonggong. Aku harus mencoba trik-trik lain untuk mengusirnya pergi secara sukarela. Atau mungkin aku hanya perlu menjinakkannya, karena bisa jadi ia tidak akan bisa pergi dariku, karena itu aku harus menjadikannya teman.
Aku juga mungkin harus bersyukur dari sudut pandang yang lain tentang kehadirannya. Karena hadirnya, aku mulai terbuka atas apa yang aku rasa pada orang-orang terdekatku, aku dapat mengevaluasi setiap hari dan kondisiku.
Aku harus menanamkan pada diriku, aku tidak perlu malu dengan kondisiku, dengan pengobatanku. Harusnya aku malu ketika aku tidak bisa bahagia dalam hidupku, atau hanya pura-pura bahagia.

Jika aku belum bisa tenang saat ini, biarlah Allah yang akan menenangkanku nanti.
Jika pikiranku masih sangat kacau, biarlah Allah yang akan mengaturnya nanti. Aku menyerahkan diri dan urusanku padanya. karena hanya Ia yang maha mampu atas segala-galanya.

Aku tidak memerlukan apapun, aku tidak sedang memerlukan nasehat apapun ketika si anjing hitam tengah bersamaku. Aku hanya butuh support dan dibersamai, didengarkan dan dimengerti sementara waktu.
Seperti aku yang berjuang menghadapi anjing hitam, orang-orang yang bersamaku juga akan menemukan banyak tantangan menghadapiku.

Turuun

Hujan turun dengan derasnya

Sama dengan air mataku yang tak terbendung alirannya

Panas.

Air mata kesedihan?

Yang tidak aku tahu sebabnya.

Hatiku kebas

Kosong

dan hampa

Disudut lain kutemukan ketenangan karena ayat-ayat-Nya, disudut lain tak kurasakan apa-apa.

Bukan karena imanku yang turun.

Ntah karena apa

Aku banyak menangis hari ini,

Aku banyak mengadu pada-Nya hari ini,

Aku banyak tidur pula hari ini.

Aku merasa lelah, meski ragaku tak berbuat apa-apa.

Aku… Tak tahu lagi bagaimana harus mengungkapkannya.

Benar,

Jika aku masih belum tenang, kembalikan semua kepada-Nya, agar Dia yang membuatku tenang.

Jika pikiranku masih kacau, biarkan Dia yang mengaturnya.

Aku punya Dia yang Maha segala-galanya.

Allah, tetap bersamai aku . . .

Mulai Naik

Hai, hari ini aku perlahan sudah mulai naik meski masih campur-campur dan sensitif. But, its oke. Semoga segera kembali pulih dan stabil karena tugas-tugasku sudah menunggu.

Hari ini juga, terimakasih yang sudah menemani saling diskusi dan bercerita. Rela meluangkan waktu berjam-jam untukku. Semoga sehat selalu dan tidak overthinking!

Aku merasa tenang ketika aku bisa menyerahkan semua kepadaNya. Aku harap bisa selalu mengendalikan diriku, dan tidak menjadi sosok yang menyeramkan. baik untuk diriku sendiri atau orang lain.

Pikiranku memang masih kacau dan belum stabil, tapi aku berusaha keras untuk tetap memegang kendali. Ini aku, diriku, maka aku yang mengendalikannya dengan bantuanNya. Apa yang tidak mungkin bagi-Nya? jika menggenggam bumi saja Ia mampu, apalagi menggenggam mood dan suasana hatiku?

Terimakasih pula untuk sosok yang aku tahu di blog, kak Hesti. Untuk kisah-kisah, motivasi dan peluk jauhnya. Semoga aku bisa setegar dirinya.

Allah, bersamai aku selalu, jangan biarkan aku lepas arah tanpa-Mu.

 

Aku,

Yang senantiasa belajar menerima.

Naik Turun

Hari ini aku belum sepenuhnya berhenti dari fase seperti kemarin, tapi lebih baik saja. Aku masih harus melawan diri sendiri, masih nangis juga sampai akhirnya meringkuk ketiduran.

Semalam setelah selesai menulis aku langsung kembali ke kamar, minum obat, menangis, sukses mencakar lengan sendiri sampai akhirnya tertidur.

Hari ini aku sedikit kesal. Mereka bilang akan lanjut, tiba-tiba ingin mundur. Andai mereka tahu sedang seperti apa kondisiku. Hmm. Tapi aku bilang, kalaupun mereka mundur, aku harus tetap maju. Aku tahu Dilla belum sesiap itu, adapun aku? aku bisa berjuang insya Allah. Terkadang kita harus berkorban untuk hal-hal seperti ini.

Aku juga bertemu dosen DPA, akhirnya aku bercerita. Aku tidak tahu ini benar atau salah langkahku, tapi aku harap ini benar. Mau tidak mau aku harus belajar menerima bahwa aku seorang pasien dokter kejiwaan. Aku harus berusaha ikhlas atas apa yang telah Allah gariskan, sama seperti ketika aku menulis motivasi-motivasi semacam ini.

Tak peduli luka ataupun trauma yang aku rasakan di masa lalu, dan berdampak saat ini, aku masih punya hari di depan untuk belajar mengikhlaskan dan menerima.

masih ada secercah cahaya yang bisa aku raih. Masih ada harapan untuk melewati masa-masa ini. Aku hanya harusselalu ingat, aku tidak pernah sendiri.

Tadi abi bertanya dengan sendu, mungkin takut aku merasa gimana gitu, apakah aku sudah lebih baik dari kemarin itu? aku jawab iya. Andai beliau tahu, aku masih membutuhkan support dan pelukan.

Andai orang-orang tahu bahwa aku pasien seorang psikiater? apa yang akan mereka pikirkan? apa yang akan mereka katakan? Akankah menjadi menyeramkan? aku tidak tahu dengan alasan apa aku harus merasa semua itu terasa mencekam.

Apa aku ingin selalu dimengerti? apa sakitku menjadikanku manusia yang tak sempurna? tidak bukan? Aku ingin dimengerti ketika aku tengah tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku selalu berusaha sebisa mungkin untuk menjadi aku yang biasanya, seperti aku yang sehat tanpa sakit dan luka apa-apa. Aku hanya tengah berjuang dan berusaha. Doakan aku, bersamai aku!

Aku akan pastikan aku sakit apa ketika bertemu psikiaterku nanti, insya Allah.

Baiklah, pikiranku mulai lari kemana-mana, aku butuh mengalihkan dan tidur. Selamat malam!

 

Aku,

Yang selalu berusaha berjuang,

Hari Ini

Aku sedang goyah, mungkin disentuh saja aku akan jatuh.

Kamu tahu rasanya menahan diri dari marah disaat kamu tengah merasa sakit dari orang yang membuatmu kesal dan marah?

Mungkin itu yang tengah aku rasakan. Bukan rasa marahnya, tapi rasa menahannya.

Aku harus menahan air mataku tak mengalir deras

Aku harus menahan mulutku tak berbicara kasar dan kelepasan

Aku harus menahan tanganku dari memukul dan melukai diriku sendiri

Aku harus menahan diri dari berteriak meneriakkan apa yang aku mau

Aku lemah…

Aku lelah…

Andai aku buka topengku, hari ini tak ada senyumku. Hanya ada aku yang terduduk lesu dan nelangsa.

Itu aku, sosok kecil yang mengharap uluran tangan.

Sosok kecil yang ingin merengek meminta sebuah peluk hangat nan menenangkan

Sungguh, aku melawan diri sendiri . Aku capek, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Di fikiranku saat ini, hanya ingin dimengerti bahwa aku tidak kenapa-napa. dibenarkan dulu setiap apa yang aku lakukan dan aku fikirkan. Diambil alih dulu apa yang tidak bisa kulakukan. Aku sedih, sangat sedih. Itu perasaanku.

Aku semakin kacau memikirkan kata ruqyah.

Aku sadar aku banyak dosa, aku memiliki kemalasan dan kefuturan.

“Tapi disebutkan disaat aku seperti ini sama saja seperti mengizinkanku berteriak marah dan merasa aku gila. Sama saja mengizinkanku untuk semakin tertarik dalam ombak negativeku. Sama saja memberiku izin semakin ingin melukai diri sendiri.”

Aku tidak ingin dibilang mencari perhatian, tapi disaat seperti ini, itu seperti sebuah keharusan. Aku selalu ingin diyakinkan, jika semua akan terlewati dan kembali seperti semula. Itu menyakitkan untuk dirasakan. Ketika kita tahu kita disayangi, tapi kita tidak bisa mempercayai itu. Apa lagi yang bisa diharapkan kecuali terus disugesti?

Mungkin tidak ada yang bisa memahami kecuali hanya segelintir saja, aku mengerti. Meski kepalaku menolak untuk mengerti. Aku kacau. Sedang kacau. Seperti kabel-kabelku berubah menjadi merah kuning hijau, dan aku tidak bisa mengendalikan alirannya.

Aku…Tidak boleh sendiri, hanya itu yang aku tau saat ini, agar aku berhasil melawan.

Allah… kuatkan aku, bersamai aku selalu, semoga setiap tetes air mata yang diam-diam selalu kujatuhkan di hadapanMu dapat meringankan sakitku.

Today

Hari ini lumayan berat untukku, bagaimana tidak tiba-tiba aku menangis dengan sendirinya di kelas. Lebih dari itu, aku ingin menangis keras dan mencakar diri. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku merasa mulai serba salah, panik, cemas dan berfikir negative.

Jika boleh bilang, aku sungguh rindu ummi. Pengin dipeluk sekali aja sama beliau disaat kaya gini. Mungkin dulu aku sering begini, hanya saja aku tidak tahu bahwa aku bermasalah. Sejak dulu, aku selalu sendiri. Menangis memeluk boneka, andai ummi tahu.. Aku cuma ingin peluknya. Dulu aku pernah sangat merindunya padahal beliau dekat hanya saja tidak bisa aku rengkuh. Sesulit itukah?

Aku bersyukur memiliki mereka disini, tidak terikat saudara tapi seperti saudara. Mereka ada dan mensupport disaat aku sangat butuh support. Aku hanya perlu bilang aku sedang tidak baik-baik saja, mereka akan hadir menemuiku, membersamaiku sampai aku merasa lebih baik. Mereka juga tidak memberikan respon negative atas apa yang aku alami dan rasakan saat ini.

Hari ini pula mereka berkumpul untukku, melihatku tengah menangis meski sebenarnya aku malu karena aku berubah sangat cengeng dan juga berubah sangat jelek. hehe. Aku banyak berterimakasih kepada mereka, semoga sampai kapanpun kami menjadi seperti ini. Semoga lindungan dan rahmatNya selalu membersamai mereka. Allah memudahkan urusan mereka dan senantiasa menyayangi juga menjaga mereka dimanapun mereka berada.

Tiba-tiba aku sangat ingin bertemu psikiaterku, aku ingin bercerita betapa aku rindu pelukan ibu, betapa aku ingin ibuku memahami apa yang tengah aku rasakan, betapa aku sangat trauma dengan gertakan, betapa aku tidak ingin ditinggalkan sendirian, betapa tersiksanya aku memendam kisah pilu 10 tahun lamanya seorang diri. Betapa aku lelah, sangat lelah. Sampai aku harus menjadi seperti ini… Semua bukan tanpa alasan andai mereka mengerti.

Aku ingin pergi bersama orang tua agar mereka tahu apa yang menimpaku langsung dari dokter. Bisakah? apa dokter akan tetap memegang janjinya tidak menceritakan rahasia dan rasa sakit terbesarku kepada mereka? kepada siapa aku harus percaya? ketika aku bahkan kehilangan kepercayaan satu persatu. kecuali kepada segelintir saja.

Allah, andai aku tidak malu … aku hanya ingin memeluk dan dipeluk, diyakinkan bahwa aku baik-baik saja. Tidak ada jin juga tidak pula sakit.

Aku tidak mengerti dengan pasti aku sakit apa, dokter tidak menyebutkan dengan gamblang, akupun takut bertanya.

Allah, aku hanya ingin istirahat tanpa memikirkan apa-apa. Apa aku bisa?

Allah, aku rindu ummi.

Aku sedang tidak boleh sendiri, harus berada di tempat ramai. Karena nanti aku menangis lagi.

Aih, abangku baru saja menelepon, aku bertanya tentang ruqyah kepadanya. Baiklah, aku akan mencoba membuat jadwal khusus untuk itu.

Kami pun berjuang untuk kembali menjadi seperti semula, hanya saja membutuhkan waktu. Setiap ungkapan yang kami ungkapkan bukanlah drama. Untuk apa membuat drama disaat hari-hari kami sudah terasa seperti drama?”

Terimakasih untuk semua yang membersamai, doaku mendekap kalian semua! Luv.

 

Aku,

Yang sedang melawan priode 2.